Anak Kecil Penjual Koran
Mencari seseorang yang membutuhkannya
Dari hati kecil ia berharap
Seseorang memanggil dan memberinya uang…
Di pagi sebuta ini
Ia berebut dengan mentari
Bersuara parau mengais rejeki
Lewat perjuangan menggapai mimpi
Di usia sebelia itu
Ia tepiskan gelak tawa teman-temannya
Walau ingin ia nikmati bermalasan dan bermanja-manja
Ia berjuang demi perut yang memanggilnya
Di kota sebesar ini
Ia coba taklukan dengan tangan-tangan kecilnya
Ia coba saingi suara riuhnya kendaraan
Ia coba bertahan, walau lelah, lapar, dan lemah ia rasakan…
Ah…anak yang manis….
Aku tak tahu kisah hidupmu, walau ingin tahu…
Aku tak tahu apakah hatimu menangis dalam tawa…
Aku tak tahu berapa banyak keringat yang telah kau seka…
Yang aku tahu…
Kau adalah benar-benar anak yang manis…
Anak yang tidak pernah putus asa…
Yang berani menaklukkan kota ini…(1995)
April 9th, 2006 at 2:59 am
Hai Riska, aku suka banget ama puisi ini.
Ia berebut dengan mentari
Bersuara parau mengais rejeki..
Jadi terinspirasi kalau ketemu penjual koran yang masih anak-anak, harga korannya sebaiknya ditawar menjadi lebih mahal..Kalau harga Kompas Rp. 3000 yaa kasih anak itu Rp 5000 yang dua ribu buat “upah anak itu karena dalam usia muda ia telah berani berebut dengan mentari..hisk
Makasih ya Riska…
Salam terbaik
Bobby